ESTETIKA DAN ERGONOMI PADA BENDA TRADISIONAL

 

ESTETIKA DAN ERGONOMI PADA BENDA TRADISIONAL

Dosen Pengampu:

1. Drs. Jajang S, M.Sn.

2. Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum.

 

Benda Tradisional

1.     BESEK BAMBU

Besek adalah keranjang yang dibuat dari anyaman bambu, biasanya terdiri dari bagian alas dan bagian tutup. Besek bambu juga disebut menjadi wadah tradisional yang ramah lingkungan karena sampah yang dihasilkan dapat terurai sehingga tidak mencemari lingkungan. Sampai sekarang, Besek masih kerap digunakan dalam berbagai tradisi sebagai wadah sesaji maupun pembungkus makanan dan jajanan tradisional sehingga mudah ditemukan dimana saja di seluruh Indonesia.

Filosofi Besek

Penggunaan besek bambu sebagai tempat penyimpanan makanan adalah simbol berkah dari langit pada setiap anyamannya. Besek bambu juga menjadi lambang kesantunan dan kehormatan karena tradisi di beberapa daerah memanfaatkan besek sebagai bagian dari ritual adat. Sementara pada masa sekarang, besek menjadi lambang tradisi ramah lingkungan yang mendukung upaya pelestarian alam.

Analisis Nilai Estetika

Terbuat dari anyaman bambu membuat besek memiliki nilai estetikanya sendiri. Ditambah di zaman sekarang, besek telah berinovasi dengan memiliki banyak variasi warna dan juga motif-motif hias yang semakin menambah nilai estetikanya.

Analisis Nilai Ergonomi

Terbuat dari anyaman bambu yang lentur dan ringan membuat besek tidak mudah rusak ketika terjatuh dari ketinggian atau terbentur benda padat. Selain itu, dengan sifat yang ringan tadi membuat besek mudah ketika dibawa kemana-mana. Besek juga dapat menjaga dan menyimpan makanan agar tidak cepat basi. Hal ini berkat pola anyaman pada besek yang menyisakan sedikit celah untuk udara. Dengan begitu, dapat mengurangi kemungkinan pertumbuhan bakteri pada makanan, akibat kelembapan yang tinggi.

2.     KENDIL

Kendil adalah periuk kecil yang terbuat dari tanah liat dan digunakan untuk menyimpan dan memasak makanan. Ukuran kendil bervariasi sesuai dengan fungsinya. Beberapa kendil yang lebih kecil digunakan hanya untuk menyimpan makanan. Penggunaan kendil sebagai kemasan makanan masih sering ditemukan di beberapa daerah. Seperti di daerah Yogyakarta yang masih kerap menggunakan kendil sebagai wadah oleh-oleh gudeg.

Filosofi Kendil

Kendil tanah liat memiliki makna kesabaran, serta perjuangan yang tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan kesabaran dalam membentuk tanah liat dan pantang menyerah menghadapi kegagalan sampai menghasilkan bentuk yang sesuai. Selain itu, Kendil tanah liat menunjukkan keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan. Walaupun mudah pecah jika jatuh, dalam penggunaannya ia sangat tahan terhadap panas dan mampu menampung air atau makanan. Ini mengajarkan kita untuk tetap fleksibel, namun kuat dalam menghadapi berbagai keadaan di dalam kehidupan.

Analisis Nilai Estetika

Nilai estetika pada kendil timbul dari bahan dan proses pembuatan nya itu sendiri. Warna tanah liat yang alami juga menjadi nilai estetika dari kendil, sehingga tak jarang orang-orang menjadikannya bahan pajangan sebagai penghias suatu ruangan karna akan menambah kesan jadoel ataupun masa lampau.

Analisis Nilai Ergonomi

Terbuat dari bahan tanah liat yang padat membuat kendil menjadi mudah pecah ketika terjatuh atau terbentur benda keras. Kendil juga mempunyai bobot yang cukup berat sehingga sulit jika akan dibawa kemana-mana.

3.     REONG

Reong adalah instrumen musik berupa kumpulan dua belas gong kecil yang dimainkan dalam gamelan Bali. Reong terbuat dari campuran timah murni dan tembaga atau bahan besi atau pelat dan berwarna keemasan tergantung bahan yang digunakan. Tinggi rendahnya nada yang dihasilkan sebuah pencon reong ditentukan oleh ukuran dan tonjolan reong. Semakin besar ukurannya, semakin rendah nada yang dihasilkan, dan semakin cembung tonjolannya nada yang dihasilkan semakin tinggi. Reong ditabuh oleh empat orang pemain dengan masing-masing tabuh pada tangan kanan dan kiri. Setiap pemain menabuh gong yang menghasilkan beberapa nada berbeda sehingga permainan dilakukan secara bergantian.

Filosofi Reong

Reong mencerminkan harmoni dan keseimbangan yang menjadi dua prinsip utama dalam kehidupan dan spiritualitas Bali. Reong juga melambangkan kerja sama dan kesatuan, karena dimainkan secara bergantian oleh beberapa pemain, menciptakan ritme yang dinamis dan saling melengkapi. Ini mencerminkan filosofi gotong royong dalam masyarakat Bali, di mana setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni kolektif. Selain itu, reong dianggap sebagai representasi suara alam dan dewa-dewa, sehingga memiliki makna spiritual yang mendalam dalam berbagai upacara keagamaan dan adat Bali.

Analisis Nilai Estetika

Reong biasanya dilengkapi dengan dudukan atau alas yang terbuat dari kayu berisi motif ukiran-ukiran Bali yang membuat reong memiliki nilai estetika yang tinggi. Ditambah dengan pewarnaan yang rata-rata menggunakan kombinasi warna emas dan merah sehingga memberi kesan luhur dan agung, serta manambah estetika.

Analisis Nilai Ergonomi

Reong memiliki ukuran yang cukup besar dengan bentuk yang memanjang ditambah bobot reong yang juga tidak ringan membuat reong sulit untuk dibawa dan dipindahkan. Sehingga reong biasanya akan dibiarkan di satu tempat dan jikalau mau dipindahkan perlu tenaga dari banyak orang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESAIN DASAR DWIMATRA : GRADASI WARNA CAT AIR & CAT POSTER

DESAIN DASAR DWIMATRA : INFORMASI PEWARNA CAT AIR & CAT POSTER